pembelajarandari HATI KE HATI + EMPATI
Kala kita mendamba pendidikan yang hakiki (yang kelak melahirkan manfaat dan kebajikan yang sesungguhnya), keterlibatan hati adalah unsur terpenting yang mutlak—dan ini tak terbantah oleh argumentasi apapun.
Dalam sangat banyak kasus, seringkali masalah meluap begitu pelik seolah tak terbendung padahal pokok masalahnya ternyata satu: bahwa hati Ayah, Ibu, para guru dan orang-orang terdekat, belum terlibat sepenuhnya.
Keterlibatan hati menjadi konsekuensi atas cita-cita pendidikan yang diusung di the Little Hijabi. Maka jangan pernah berharap capaian kebaikan pada anak jika hati orang-orang terdekat belum sepenuhnya terlibat dalam pendampingannya. Jangan pernah mengeluh, protes atau kecewa atas ini dan itu, jika kita (ibu, ayah, guru) belum mencurahkan waktu dan perhatian secara utuh.
Selain itu, ikatan empati sesama tuli juga menjadi kekhasan sekaligus kekuatan di proses pembelajaran hati ke hati yang diusung di the Little Hijabi. Di saat orang tuli seringkali dianggap tak pantas dan tak mampu mengambil peran pendidikan (menjadi guru), the Little Hijabi justru lebih banyak melibatkan sesama tuli untuk peran utama pendidikan, mulai dari penggagas dan konseptor, para guru, terapis, hingga kru sekolah.
Dalam balutan empati, Insya Allah guru bisa lebih mudah memahami kondisi sang murid, sedari kesulitan yang dihadapi hingga bagaimana pancaran daya juang mereka. Hal ini juga yang kemudian menstimulasi semangat belajar dan kepercayaan diri sang murid—tanpa penekanan dari pihak yang menganggap diri lebih sempurna (merasa normal).
Selain sesama tuli, adanya pengajar sebaya (peer educator) juga menjadi keunikan di the Little Hijabi, yakni kalangan anak-anak yang bisa mendengar yang ikut menemani dan mendamping proses belajar anak-anak tuli. Maka empati juga muncul atas dasar sesama anak-anak dengan dunianya yang khas.
