Bahasa isyarat pada hakikatnya ialah ‘bahasa ibu’ yang sifatnya universal. Disadari atau tidak, bahasa isyarat digunakan oleh ibu dan bayi di setiap budaya di seluruh dunia sepanjang zaman. Bahasa yang jauh lebih universal dari bahasa verbal apapun—bahkan ini adalah fitrah tentang bagaimana berkomunikasi dengan insan manusia di tahap paling dini.
Coba saja kita bayangkan bagaimana seorang Ibu atau ayah yang secara alamiah terdorong untuk berkomunikasi dengan sang bayi melalui gerak-gerik tangan dan tubuh serta mimik muka ekspresif untuk menyampaikan pesan atau ungkapan hati pada sang bayi. Bahasa inilah yang jarang sekali kita sadari sebagai sebuah fitrah komunikasi di taraf paling awal (bahkan lazim digunakan di antara orang asing yang tak saling paham bahasa lisan masing-masing).
Fakta lain adalah bahwa seseorang yang di masa kecilnya banyak mendapatkan paparan bahasa isyarat dan komunikasi visual yang ekspresif, akan cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih supel serta cakap berinteraksi dan mengekspresikan diri.
Nyatanya, bahasa isyarat memang merupakan faktor pendorong yang sangat bermanfaat bagi pengembangan kecakapan komunikasi secara umum—termasuk untuk mengekspresikan diri. Maka, catatan pentingnya: fakta tentang kemanfaatan bahasa isyarat bukan hanya berlaku bagi anak-anak tuli, melainkan untuk setiap anak.
Di saat bahasa isyarat di negeri ini sedang sangat dikesampingkan (disepelekan/dibuang/dihina), the Little Hijabi justru menempatkan bahasa isyarat sebagai kunci kekuatan pembelajaran yang digulirkan di antara anak-anak (siswa-siswa) tuli dan berkebutuhan khusus lainnya.
Bermula dari pengalaman langsung, lalu merenungi kembali tentang fitrah berbahasa (berkomunikasi), dan kemudian didukung oleh banyak penelitian ilmiah, kami sangat yakin bahwa Insya Allah bahasa isyarat adalah salah satu faktor terpenting untuk membangun kemampuan komunikasi dan fondasi kemampuan belajar secara umum—khususnya lagi bagi anak-anak tuli. Hal ini telah terbukti melalui salah satu penelitian ilmiah oleh Grosjean (1982) bahwa seorang anak tuli yang diberi akses penuh terhadap bahasa ibunya, yaitu
Bahasa isyarat justru cenderung memiliki kemampuan kognitif, kemampuan baca-tulis dan kemampuan social-emosinya lebih baik dan optimal. *1 Dan Grosjean menambahkan bahwasanya Bahasa isyarat dapat memenuhi kebutuhan anak-anak tuli terhadap informasi, bahasa, dan pendidikan secara penuh dan utuh. Sesuai dengan fitrahnya, bahasa isyarat adalah bahasa ibu setiap individu yang terlahir tuli dalam mengakses hak akan informasi, pendidikan dan Bahasa (Markku Jokinen, 2001)*2 ,dan pernyataan tersebut juga dinyatakan dalam Konvensi PBB pentingnya upaya pendidikan untuk memberikan akses bahasa isyarat kepada anak-anak tuli lebih dini (Markku Jokinen, 2005)*
Notes:
*1 Grosjean, F.1982. Life with Two Languages: An Introduction to Bilingualism.Cambridge, MA: Harvard University Press
*2 Markku Jokinen.2001. Articles on XIII World Congress of the World Federation for Deaf. How is a Deaf Child Loved? Linguistic Human Rights of Sign Language Users.WFD.Finland.
*3 Markku Jokinen .2005. Linguistic Rights, Sign Language as a Right in the UN Convention on the Rights of Persons with Disabilities and in the Legislation of UN Member Countries. Panel Discussion in World Federation for Deaf.